Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat pertama di dunia? Kalau Anda tidak tahu, tidak mengapa karena memang banyak yang tidak tahu bahwa peringkat pertama untuk kualitas pendidikan adalah Finlandia.
Kualitas pendidikan di negara dengan ibukota Helsinki, dimana perjanjian damai dengan GAM dirundingkan, ini memang begitu luar biasa sehingga membuat iri semua guru di seluruh dunia.
Peringkat I dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, Dan juga Matematika. Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental. Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas.
Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No 1 dunia ?
Dalam masalah anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi dibandingkan Rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan beberapa negara lainnya.
Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, Dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finnlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam perminggu
Lalu apa dong kuncinya?
Ternyata kuncinya memang terletak pada kualitas gurunya. Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan Dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima, lebih ketat persaingainnya ketimbang masuk ke fakultas bergengsi lainnya seperti fakultas hukum Dan kedokteran !
Bandingkan dengan Indonesia yang guru-gurunya dipasok oleh siswa dengan kualitas seadanya Dan dididik oleh perguruan tinggi dengan kualitas seadanya pula. Dengan kualitas mahasiswa yang baik Dan pendidikan Dan pelatihan guru yang berkualitas tinggi tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi guru-guru dengan kualitas yang tinggi pula.
Dengan kompetensi tersebut mereka bebas untuk menggunakan metode kelas apapun yang mereka suka, dengan kurikulum yang mereka rancang sendiri, Dan buku teks yang mereka pilih sendiri. Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian Dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, mereka justru percaya bahwa ujian Dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak testing membuat Kita cenderung mengajar siswa untuk lolos ujian, ungkap seorang guru di Finlandia. Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa diukur dengan ujian. Pada usia 18 th siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi Dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.
Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK ! Ini membantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri, kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia. Dan kalau mereka bertanggungjawab mereka akan bekeja lebih bebas.Guru tidak harus selalu mengontrol mereka.
Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Kita tidak belajar apa-apa kalau Kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru. Disini guru tidak mengajar dengan metode ceramah, Kata Tuomas Siltala, salah seorang siswa sekolah menengah. Suasana sekolah sangat santai Dan fleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan Dan belajar menjadi tidak menyenangkan, sambungnya.
Siswa yang lambat mendapat dukungan yang intensif. Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik Dan yang buruk Dan merupakan yang terbaik menurut OECD.
Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar Dan prilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.
Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika Kita mengatakan "Kamu salah" pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, Dan tidak dengan siswa lainnya. Jadi tidak Ada sistem ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing.
Pendidikan Indonesia selalu gembar-gembor tentang kurikulum baru...yang katanya lebih oke lah, lebih tepat sasaran, lebih kebarat-baratan...atau apapun. Yang jelas, menteri pendidikan berusaha eksis dengan mengujicobakan formula pendidikan baru dengan mengubah kurikulum.
Di balik perubahan kurikulum yang terus-menerus, yang kadang kita gak ngeh apa maksudnya, ada elemen yang benar-benar terlupakan...Yaitu guru! Ya, guru di Indonesia hanya 60% yang layak mengajar...sisanya, masih perlu pembenahan. Kenapa hal itu terjadi? Tak lain tak bukan karena kurang pelatihan skill, kurangnya pembinaan terhadap kurikulum baru, dan kurangnya gaji. Masih banyak guru honorer yang kembang kempis ngurusin asap dapur rumahnya agar terus menyala.
Guru, digugu dan ditiru....Masihkah? atau hanya slogan klise yang sudah kuno. Murid saja sedikit yang menghargai gurunya...sedemikian juga pemerintah. banyak yang memandang rendah terhadap guru, sehingga orang pun tidak termotivasi menjadi guru. Padahal, tanpa sosok Oemar Bakri ini, tak bakal ada yang namanya Habibi.
posted by Pendidikan Indonesia at 2:57 PM 20 comments
Thursday, August 25, 2005
Gelar....Mabuknya Pendidikan
Sekali lagi, Indonesia dihadapkan pada kasus yang mencoreng nama pendidikan. Kasus jual beli gelar yang dipraktekkan oleh IMGI. Cara memperoleh gelar ini sangatlah mudah, Anda tinggal menyetor 10-25 juta, dan Anda dapat gelar yang Anda inginkan..Tinggal pilih...apakah S1, S2, atau S3....benar-benar edan! Sebagian orang mabuk kepayang akan nilai gelar yang memabukkan. Dan tidak tanggung-tanggung yang pernah membeli gelar dari IMGI ini...sekitar 5000 orang.
Ini adalah protet buram masyarakat Indonesia yang memuja gelar melampaui batas. Dengan titel, seakan-akan masa depan lebih mudah. Padahal, nasib ditentukan oleh kerja keras...dan sebagian masyarakat Indonesia mencari jalan pintas. Tak heran, jika kasus wakil rakyat yang melakukan jual beli gelar agar kelihatan mentereng menyeruak di mana-mana. Dan dengan kepala kosong, mereka mencoba mengkonsepsikan pemerintahan Indonesia. Apa yang terjadi? Undang-undang sekedar lobi-lobi politik dimana semuanya UUD (ujung-ujungnya duit).
Tidakkah kita semua miris lihat kenyataan ini? Lalu apa gunanya gelar kalau ternyata dia hanya kedok belaka?
Memulai sebuah kisah dalam sebagian retorika hidup ini memang tak seharusnya terbungkus dalam sebuah kerangka kesempurnaan. Aku bukanlah seorang piawai dalam memaknai cinta, bukan juga pujangga yang pintar berlihai dengan kata-kata sastra, bukan juga penulis yang cerdik dalam menyalin dan mendeskripsikan celah-celah cinta dalam tulisannya. Tapi aku adalah aku, seorang manusia normal yang juga merasakan cinta, dan itu semuanya ada saatnya. Nostalgia, ku ingin kembali menyelami masa-masa getir dan menakjubkan itu, di sebuah kapal yang kumuh seakan mewah, yang kecil seakan megah, di kapal itulah aku mulai berlabuh, berlayar menuju daratan yang menjadi tujuan dan impian terbesarku. “Pondok Pesantren”, ya… tempat itu yang telah mengajariku banyak hal, menyadarkanku bahwa aku sedang berada dalam skenario terhandal yang hanya milik Allah SWT. Disinilah aku memulai semuanya. Saat itu, aku masih duduk di kelas 3 tsanawiyah, awal mulanya aku merasakan menjadi seorang remaja, masa inilah yang telah mampu mengubah tubuh-tubuh kecil ingusan menjadi seorang yang seakan ingin terus menikmati power of teenager, Pubertas. Berbeda halnya dengan diriku, aku cuek dan sama sekali tidak memperdulikan hal seperti itu, Tidak sama sekali. Hingga suatu hari di mana kita disibukkan oleh suatu kegiatan, disitulah kejadian itu semua bermula. Di atas sebuah panggung berukuran panjang 15 meter dengan lebar 8 meter serta di hiasi back ground bergambar unik yang menjadi indikasi indahnya sebuah panggung, seorang kakak kelas tengah memerankan peran protagonisnya menjadi seorang kang ujang yang berusaha semampunya untuk melindungi adiknya tercinta. Usai dramatikal, riuh pikuk suara adik-adik kelas dan temen-temenku menyorakinya bak aktor yang sudah sering naik turun panggung, saat itu aku membawa kamera digital bermerek sony yang baru saja ayahku hadiahkan untukku beberapa pekan lalu. Dan temen yang ada di sebelahku mendorongku untuk maju dan mengambil gambarnya. Aku hanya tersenyum sambil menyodorkan kamera tersebut kepadanya, “ aku takut, kamu saja” Ujarku pelan. “Ah….ayolah sob, aku mana bisa menggunakan benda seperti ini, kamu tau sendiri kan”. Bujuknya padaku. Dengan agak ragu dan perasaan takut di perhatikan ustadz-ustadz pengasuhan, aku pun segera memasang posisi pas terarah dan kemudian “klik” aku menekan tombol pengambil gambar. “huffttt….yup selesai, nih rah liat ja ndiri.” Ara pun memperhatikan gambar yang baru saja ku ambil. “agh…..gelap la, ambil lagi sana, gak bagus nih.” Ujar temenku ara, Kembali aku maju untuk mangambil gambar, hingga ketiga kali gambarnya masih saja tidak bagus, dengan perasaan sebel, segera aku menghapus slide-slide gambar yang aku ambil tadi, ku baru sadar temenku ara menatapku heran, lama ia tertegun dengan apa yang barusan kulakukan, dengan cepat bak kilat yang menyambar, otakku berpikir untuk memberinya alasan, “ gini lho ra…, sekarang udah malam, layar gambarnya gak bisa bagus, tidak ada modus malamnya, afwan ya…” Keluhku padanya dengan wajah yang kubuat agak memelas. “ da, momen begini jarang bisa kita dapatkan, we haven’t a chance for the secondly, baby…” Ceramahnya padaku, “ jadi, mau gimana lagi, ustadz wido dari tadi merhatiin ke sini, kamu mau ntar ketahuan?” ujarku padanya. Ustadz wido adalah wakil direktur bagian pengasuhan, guru yang paling disegani oleh warga pesantren Misbahul Ulum, tubuhnya yang besar, kulitnya yang agak hitam tlah berhasil membuat tiap orang yang menlihatnya jadi takut terponta-ponta, namanya saja yang disebut udah membuat bulu kuduk kita berdiri, apa lagi jika berhadapan langsung dengan beliau, nafas seakan segan untuk melanjutkan tugasnya, jantung seakan tak ingin lagi berdetak, hidup segan mati tak mau. Itu motto yang kita gunakan tiap nama kita disebut olehnya, “beneran ente da?, aduhh… Astaghfirullah.” Ara segera merapikan posisi duduknya, terlihat raut wajahnya yang pucat karena takut. “hehe…berhasil.” Celotehku dalam hati. Ara adalah salah satu dari kelima teman deketku di pondok, dia pintar tapi malas, tidak pernah aku melihatnya belajar ketika ujian, dia juga jarang memperhatikan guru menerangkan penjelasan di kelas, sering tidur dan tubuhnya yang gemuk membuatnya terlihat lucu ketika tiap kali dia angkat suara. Betapa besar karunia Allah yang diberikan padanya, tanpa belajar saja dia sudah mampu berada pada tingkatan ketiga di kelas, apalagi jika belajar.
Hari itu hari selasa, tanggal 7 februari, hari kelahiranku. Sudah adatnya dipondok tiap santriwati yang sedang berulang tahun akan mendapat kreativitas sosialisasi dari kawan-kawannya, dan ini adalah hal yang paling menyebalkan bagi santriwati itu sendiri, kalian tau apa?. Setiap yang berulang tahun bakalan dikerjai yang bukan seadanya, prioritas kelas unggulan telah mendapat prestasi terbesar dalam hal-hal seperti ini, apalagi di kalangan anak-anak yang baru merasakan menjadi seorang remaja. Pagi itu aku mencoba diam, memastikan bahwa kawan-kawan tidak ada yang mengingat ulang tahunku. Seperti biasanya, setiap pagi kita mengikuti pembagian kosa kata, setiap kelompok di berikan dua kosa kata perharinya untuk dihafal dan di pergunakan, barang siapa yang tidak memakai kosa kata yang telah diberikan, akan di kenakan sanksi. Seusai kosa kata, kami pun bersiap-siap untuk mandi dan aku menuju lemariku untuk mengambil pakaian sekolah yang akan ku kenakan nanti. Sampai didepan lemari, perasaanku mulai risih, kunciku tidak tergantung lagi di tempatnya, “ ya Allah… dimana kuncinya” bisikku dalam hati. Aku berusaha menarik-narik gagang pintu lemari ku, namun tetap saja tak bisa terbuka, aku bertanya pada teman-teman sekamarku, mereka hanya acuh dan tak memperdulikan aku bicara, seakan aku tak ada disana, Aku pun keluar untuk mandi, tapi sesampai di kamar mandi, aku kehilangan perlengkapan mandiku, aku mencari kesana kemari, namun tak kunjung ku temui, aku mulai curiga pada siasat teman-temanku, ntah mengapa tiba-tiba kaki ini melangkah ke arah belakang kamar yang dekat dengan hutan, ketika itu suasana pagi masih begitu gelap, dibawah rak-rak sepatu, aku melihat benda yang teramat kukenal, ya…. Itu dia, akhirnya aku menemukannya. Aku segera berlari mengejar waktu untuk mandi. Selesai mandi aku kembali ke kamar, sejak mandi tadi yang ada dipikiranku adalah kunci, akankah aku akan terlambat ke kelas Cuma gara-gara kunci, ku terus berdoa dalam hati. Tapi apa, ketika aku kembali ke kamar, ku diam terpaku melihat apa yang terjadi, seakan raga ini ingin pingsan, lemariku terbuka lebar dengan semua barang-barang yang tergeletak berantakan diatas lantai bertuliskan “ Barang Obralan, Stok terbatas”. Ya Allah…cobaankah ini?. Kawan-kawanku tertawa geli melihat raut wajahku. “ nih, kuncinya.” rina sobatku memberikan kunci yang dari tadi ku cari. Dia termasuk komplotan yang mengerjaiku. “ terima kasih buat kalian semua.” Ujarku pada mereka. Segera aku pinggirkan barang-barangku untuk aku bereskan sepulang sekolah. Baju sekolahku, mana baju sekolahku?, ujarku spontan. “please kawan, kembalikan baju sekolahku, nanti aku bisa terlambat nih.” Kataku memelas. Namun tetap saja tak ada yang menoleh ke arahku. “kalian tega melihat aku di berdirikan oleh bagian pengajaran di tengah-tengah lapangan…??” pintaku lagi. “ di bawah kasur, da.” Suara icut mengagetkanku. cut juga salah satu dari kelima temenku Ayu, Ara, Rina, dan Ria. Dia adalah sahabat yang paling deket denganku, teman curhat juga teman berkelahiku. Ayahnya telah meninggal ketika dia selesai di bangku SD, itu kejadian yang teramat pahit baginya, dia adalah anak terakhir dari turunan Al-faruqi. Terkadang ia bisa menjadi kawan yang begitu menyebalkan bagiku. Tapi dia adalah sesosok kawan baik yang tak akan pernah ku lupakan. Aku pun segera berkemas-kemas untuk pergi ke sekolah, bersyukur akhirnya aku tidak terlambat pergi ke kelas, kalau saja terlambat, wajahku yang kesekian kalinya bakalan hadir ditengah-tengah pemandangan indah yang sering di perhatikan murit-murit kelas lainnya. Semua tidak berakhir sampai disini saja, masih banyak tantangan ke depan yang akan aku hadapi. Kelasku berada pada tingkat 2, aku duduk di kelas 3 A, kelas unggul yang ditempati oleh 17 ikhwan dan 18 akhwat, diantara semua kelas hanya kelasku saja yang digabung antara ikhwan dan akhwatnya, ya… dikarenakan ruangan di sekolahku pada saat masih sangat standar. Aku meletakkan buku-buku pelajaranku di atas meja dan beranjak ke luar kelas untuk berbaris dahulu sebelum masuk. Tiba-tiba, tanpa sepengetahuanku mereka menulis seabrik tulisan konyol di atas papan tulis, “for heaven sake, apa lagi ini” keluhku pada mereka, mereka mencegahku untuk masuk ke kelas, mereka memberikanku perintah ini dan itu, mulai dari membersihkan koridor sampai mengambil absent di kantor. Dan aku pun turun ke bawah untuh mengambil absent, sesampai di kantor, aku berpapasan dengan seorang kakak kelas yang seakan sudah tidak asing lagi bagiku, siapa ya… dia mengalihkan senyumannya padaku, tapi ku tak peduli, segera ku mengambil absent di bagian pengajaran dan kembali ke kelas. Di pikiranku hanya terlintas tentang siasat apa lagi yang akan di lakukan oleh teman-teman padaku. Pelajaran pun berlangsung seiring waktu belajar, seusai pelajaran pertama, aku mulai merasa curiga dengan kelakuan kedua teman ikhwanku. “Dor.” “ astaghfirullah.” Suara letusan terdengar mengagetkanku, mereka meletakkan letusan dekat dengan kursi yang aku duduki, mereka hanya tersenyum geli melihatku kaget. Aku tetap tak peduli, aku pura-pura fokus dengan bacaan yang sedang ku baca, mereka pikir dengan melakukan hal seperti itu, aku bakalan marah dan berpaling kearah mereka, aku masih tetap seperti diriku, tidak peduli apapun urusan mereka para ikhwan, but, you know what ?, suara ledakan itu terdengar oleh wali kelas kami yang memang memiliki penyakit jantung, secara spontan dan tak terduga beliau langsung masuk ke kelas kami dan bertanya siapa yang telah meledakkan letusan itu, temenku Edi tanpa basa-basi dengan rasa bersalah menganjungkan jarinya, seraya berkata, “saya ustsdzah”, dibarengi dengan temenya ulil. Mereka pun disuruh mengahadap penaadz Zainal. “ Siapa yang bernama Mufti disini?” tanyanya pada kami di kelas, arahan tertuju padaku, “ hari gini belum kenal yang namanya Mufti?” hehe hatiku membathin, dengan gaya bak aktris yang seakan ingin dimintai untuk menandatangani kontrak, aku pun dengan bangganya mempersembahkan dan menunjukan bahwa akulah yang bernama Mufti. Berbeda halnya dengan orang-orang yang ditanyai oleh pengasuhan dengan gaya mereka yang takut bakalan di beri sanksi atas tindakan kriminal yang mereka sadari atau tidak, aku sebaliknya, santai dengan action senyumku yang gemulai tapi mungkin terlihat tak manis, maklum saat itu udah hampir siang, kalian tau sendiri kan wajah-wajah manusia ketika siang bolong, eh gak maksud nyindir lho.... Kembali pada pokok permasalahan tadi, aku masih tergagap dengan pertanyaan beliau barusan yang muncul sekejap dan berhasil membuatku kaget, “ ana ya Ustadz”. Ujarku pelan. “ hari ini kamu milad ya...?” Tanyanya lagi. Aku hanya menunduk dengan perasaan agak heran. Tiba-tiba beliau langsung meluapkan seluruh kata-katanya yang membuat hatiku berdebar kancang, aku sesak, tangisan seakan ingin memenuhi sudut ruang jiwa ini. Aku tak mengerti dengan ucapan beliau, beliau mengatakan aku mengikuti budaya yahudi dengan caraku merayakan hari milad ini dengan membawa letusan, maksudnya apa?. Dan aku mulai mengerti ketika aku melihat dua temen ikhwanku sedang berdiri terpaku di depan kelas. Seabrik ceramah pun mengisi kelas kami saat itu. Aku terdiam, aku bukan tipe yang bisa langsung membantah ketika itu tidak benar bagiku, aku begitu lemah, hanya bisa menahan rasa sesak tak karuan.
Kala itu aku berumur 7 tahun, di usia inilah aku mulai merasakan arti sebuah “kekejaman”,
Aku selalu memperhatikan detik jam yang berdetak, sebuah jam yang sudah mulai kumuh, terbuat dari alumuniun antik dengan ukiran nama seorang Arabian terkenal, aku masih mengingat bentuk jam itu.
Terkadangku ku bertanya pada ibuku, “ ummi, kapan jam itu berhenti berdetak dan menghentikan segala aktvitas kita?. Ummi hanya tersenyum mendengar pertanyaan konyolku ini. Beliau adalah seorang wanita yang paling tegar yang pernah aku temui, wajahnya yang sudah hampir menua, tubuhnya yang kecil dengan kerudung yang menutupi rambut hitamnya seolah menyingkirkan tiap kemelut perasaanya.
Aku memang seorang anak kecil yang hanya dianggap seorang anak kecil, tapi aku bukanlah anak kecil yang tidak hidup dan merasakan kekejian mereka. Aku hidup, aku merasakan, aku mendengar, dan aku melihatnya.
Ayahku hanyalah seorang karyawan yang bekerja di sebuah maqha milik said Hussaini Lahab, dia adalah seorang tuan tanah yang mempunyai kekuasaan penuh atas rumah yang kita kita tempati. Kumisnya yang tebel, matanya yang tajam, dan kulitnya yang hitam selalu saja membuatku enggan untuk melihatnya kedua kali, dia memang berperawakan menakutkan tapi dialah yang kerap kali membantu keluargaku di saat-saat kita terpuruk akan penatnya hidup ini.,
Setiap waktu berjalan dengan santainya tampa memperdulikan siapa saja yang merasa letih dan sakit akan sosok mayanya.
Ketika pagi menjelang, ingin rasanya aku tidak terbangun dan terus tidur, tidur dengan pulasnya.
“fachrej, shalat shubuh dulu sayang, ayahmu telah menunggumu diluar, terus mandi, nanti kamu telat ke sekolahnya”. Suara lembut ibu terdengar membangunkanku, aku pun segera melangkahkan kakiku ke kamar mandi, dan pergi menuju masjid bersebelahan dengan rumah kita,
Tiba-tiba, ditengah perjalanan ke mesjid, ayah pun menghentikan langkah kakinya, ada perasaan tak enak merasuk ke hatiku. Beberapa manusia-manusia keji itu mulai terlihat, ada seseorang yang sedang di introgasi oleh mereka, bukan, bukan diintrogasi, lebih tepatnya seseorang yang sedang disiksa menggunakan tangan-tangan kotor mereka.
Aku melihat raut wajah ayah yang mulai berubah, perlahan beliau mengenggam jemari-jemariku, “ tenang nak, tidak akan terjadi apa-apa selama ayah masih bersamamu.” Itulah kali terakhir aku mendengar ucapan dari bibir beliau untukku, seseorang yang laksana cahaya penentram bagi hidupku. Seorang ayah yang lebih dari segalanya, beliau telah menemani hari-hariku dengan kesempurnaan spiritual yang tak akan pernah aku lupakan.
Aku melihat mereka, aku marah, ingin rasanya tangan kecil ini menghunus pedang ke tubuh mereka, membiarkan darah mereka bercucuran. Aku tak begitu sadar malam itu, seingatku, tubuh ayah diseret dan dipukuli dengan ujung senjata mereka, ketika itu aku mencoba melawan, mereka menamparku dan ayah membelaku, dia berusaha melindungiku, tapi tangan-tangan keji itu kembali menyeret tubuh ayah, memukul kepalanya dengan batu besar,” ayah…hentikan…ku mohon hentikan....” Teriakku pada mereka, aku menggigit kaki salah satu dari mereka, dan dia pun melempar tubuhku, setelah itu, antara sadar dan tidak, aku melihat mereka membawa ayah yang sudah tak berdaya ke dalam mobil mereka.
Aku tersadar saat ibu tengah membaluri tubuhku dengan handuk hangat, wajah beliau terlihat letih, sayup-sayup terdengar suara tangis adik perempuanku syahidah menyebut-nyebut nama ayah, aku pun meraih tangan bunda seraya bertanya, “ Bu, Ayah...,
“ kamu sudah siuman nak, sudah 2 hari kamu tak sadarkan diri, ini minumlah dulu”. Ibu memberiku secangkir teh hangat, aku tahu beliau tengah menahan sesak dan perih , matanya merah sembab, aku merasakan itu.
Aku kembali mengulang pertanyaanku,” Bu, ayahh?”. Kembali ibu hanya diam, sejenak ia berkata,” sudahlah nak, ayahmu akan baik-baik saja,” serak suaranya berusaha menahan dalam rasa sakitnya itu. Ingin rasanya aku berteriak kencang menerobos kesunyian, mengepakkan sayap-sayap keb encian, kenapa harus kami?, kenapa? Kenapa harus kami Ya Rabb, dosa kami apa? Sehingga Engkau memberi derita pahit untuk keluargaku. Aku benci dengan semua ini, setiap waktu aku selalu berdoa, melantunkan keindahan pujian-pujian Asma-Mu, berbisik kecil melafadzkan santunnya firman-firmanMu, tapi inikah yang Kau beri untukku.
Aku berusaha bangkit dari kasurku, menggenggam erat tangan ummi,“Ayah..., ummi ayah.......”,tetesan air mata yang kutahan tak sanggup lagi ku bendung, aku memang seorang yang dianggap anak ingusan, yang masih berusia 8 tahun, tapi apakah dengan kejadian ini mereka masih menggangapku seorang anak ingusan?, “anakku fachrez”, beliau memelukku erat, tangisannya tak kuasa menutupi kesedihan itu, wajahnya sayup-sayup menerpakan seluruh rasa khawatir dan takut yang selama ini beliau tahan. Syahida berlari kearah ummi dan memeluknya,”ummi...”
“kapan ini semua akan berakhir ummi, kenapa perbedaan ini ada?”, kenapa harus ayah ummi? Kenapa ayah?. Dengan wajah lembutnya, ummi diam tak bersuara, hanya tangisnya yang kudengar, sesaat dia berbisik padaku “ percayalah nak, Allah maha adil, Dia tak akan menguji kita ketika kita tidak mampu menempuhnya, beristirahatlah anakku, kau masih butuh istirahat. beliau mencium keningku, dan berlalu sambil menggendong syahida, seorang gadis kecil dan mungil yang sedang merasakan rindu akan gendongan serta belaian yang setiap sebelum tidur ia rasakan, Ayah.
Sore hari aku pun mencoba untuk keluar dari kamar, telah beberapa hari ini aku hanya berbaring di tempat tidur, ku pandangi langit biru yang hampir gelap, aku rindu ayah, apa kabarmu ayah?, aku janji kelak akan membalas semua ini dengan tanganku sendiri. Ya Allah, wahai dzat yang maha Kuat, bantu hamba menghadapi ini semua dengan kekuatan yang engkau berikan. Aku yakin jika Engkau tlah menolongku, maka tak ada yang bisa mengalahkanku, aku Yakin Engkau slalu bersamaku, dan Engkau maha Bijaksana.
Hari berganti hari, bulan mengikuti bintang yang terus berevolusi, tahun pun dengan pesona kemegahannya datang melewati setiap waktu yang terkunjungi dengan cepatnya. Seorang anak ingusan kini dengan optimismenya beranjak menjadi seorang laki-laki remaja yang setiap waktu rela menyisakan harinya untuk membantu ibunya tercinta.
Kini kudapat merasakan tangan kecil ini yang berubah menjadi tangan yang besar, tubuh kecil yang dulu pernah dianggap lemah, yang dengan mudah disakiti telah berubah menjadi tubuh kekar yang segera ingin melampiaskan semuanya. “ayah, aku akan segera datang, aku yakin engkau masih hidup, aku dapat mersakan itu. Aku tak percaya dengan omongan orang mengatakan bahwa engkau telah tiada. Aku yakin engkau masih ada, dan sedang menunggu anakmu datang menolongmu.
Pagi itu aku berkumpul dalam sebuah perundingan menghadapi perlawanan bersama para pemuda-pemuda lainnya. Ibu mencium keningku sebelum aku berangkat dan berkata,”anakku, ingatlah Allah selalu bersamamu” senyum ibu padaku laksana kobaran api yang menyemangatkan sanubari ini. “Aku akan kembali, ummi”, syahida datang dari balik ibu, “kak, bawalah ini, aku akan merindukanmu”, ia memberiku sehelai kain yang aku sendiri tidak mengerti maksud pemberiannya itu.
Dedaunan mulai berjatuhan dari pohonnya, sang mentari pun dengan bangganya mengagungkan keelokan cahaya yang begitu terik. Aku mulai mengukir wajah ayah dalam benakku, aku akan menemukannya, akan kuusap wajahnya dengan peluh kasih cintaku, aku rindu bacaan kitab suci yang beliau lantunkan, aku rindu gema azan itu, aku rindu.
Hari itu cuaca begitu lembut menghembuskan nafas yang beralur bersama desirnya pepasiran putih, aku mulai menapaki jalan demi jalan bersama para gerombolan lainnya. Berjalan dalam tapak menuju syahid cinta-Nya.
Oh Rabb, Wahai Dzat yang menciptakan deburan ombak yang terombang-ambing bersama halusnya pepasiran. Hamba mohon berikanlah kebijaksanaan-Mu Itu untuk hamba yang lemahTak berdaya ini.
Kami mulai berjaga-jaga di beberapa tempat, siasat telah kami rencanakan, kami hanya bisa pasrah memohon bantuan-Nya. ntah berapa rumah dan bangunan yang tak kokoh berdiri lagi lantaran hancur diterpa oleh tangan-tanga keji mereka, api telah menjilat habis sebagian pondasi beberapa bangunan di negri kami. Seonggokan sampah-sampah itu membuatku ingin segera menghacurremukkan tubuh mereka, banyak saudara-saudaraku yang tak lagi memiliki daya untuk melawan, mereka lemah.Jati diri mereka seakan hilang dilumat manusia keji itu. Tapi keimanan kami tak akan mudah di tundukkan seperti mereka yang telah menundukkan negri tercinta kami. Kami tak sebodoh yang mereka pikirkan, Allah telah kuat menetapkan kecintaan kami pada satu keyakinan ini.
Silahkan kalian tertawa, duduk terbahak-bahak di atas singasana yang kalian anggap megah itu, ayo lumatkan kebencian kalian itu. Kalian pikir dengan itu semua kalian sudah yang paling kuat. Dengan mencabik-cabik hati saudaraku, mengalahkan pasukan syhid kami, kalian kira sudah merasa yang paling berkuasa. Kukatakan TIDAK, bahkan jika Dia berkehendak pepasiran putih yang ganas ini pun bisa membalut tubuhmu hingga tulang putihmu yang terlihat. Kami akan terus dengan bangga melantunkan kalimah suci “Lailahaillah Wallahuakbar.”
Suara letusan pun mulai terdengar, dari jauh ku melihat sosok-sosokitu mendekat, mengiringi benda-benda besar dan terlihat kuat, kami hanya memiliki senjata sederhana. Pasukanku tak sebanding dengan pasukan mereka, tapi niatku untuk menjalankan syahid ini begitu besar. Aku terus bertashbih kecil membisikkan Asma-asma-Nya.
Bismillah, peristiwa itu pun terjadi. Dengan gairah semangat, kami keluarkan seluruh tenaga yang kami punya. Sehelai kain yang kuikatkan pada lengan tanganku ini membakar kejangan ghirah , “aku cinta kalian fillah” Dan malam pun akhirnya tiba mengikuti langkah jejak fissabilillah yang akan terus berlajut hingga tetes darah penghabisan. Kesunyian malam menemaniku bersama gemerlapan, benih-benih ini akan terus ada dalam jiwa umat yang akan lahir dan tumbuh menjadi para penyelamat. Ingin rasanya ku menangkap kedamaian itu, kedamaian yang seolah seperti gambaran pesona mawar merah yang berdampingan dengan melati putih, indah tiada terbahasa.
Aroma yang berbeda, hembusan angin malam membawaku terhanyut dalam keheningan ini. Aku bermimpi, dalam mimpiku ayah tersenyum menyapa kehadiranku. Wajah berseri itu membawakan minuman untukku dengan segelas kaca benih, indah corak serta anggunnya bentuk kaca itu membuatku terlena.
Goresan Karya Cinta : Cut Muftia Keumala
Sebuah karangan imajinasi dari kisah-kisah umat yang telah beratus-ratus tahun terjadi, bahkan hingga detik ini.
Lembaran doa ku bisikkan berharap kasih cinta-Mu untuk saudara-saudaraku, serta para mujahidin yang tengah berjuang.
Sudah masyhur di kalangan kita, ucapan sang Khatamul Anbiya, Muhammad saww tentang sosok wanita yang memainkan peranan penting dalam keberlangsungan risalah:“Fathimah adalah wanita surga termulia”.[1] Di lain waktu, Rasulullah saww bersabda:“Hai Ali, Fathimah adalah bagian dari diriku, cahaya mataku dan buah hatiku. Siapa yang membuatnya marah, berarti membuatku marah dan siapa yang membuatnya gembira, berarti membuatku gembira”.[2]
Ya, Fathimah az-Zahra as adalah sosok wanita paling mulia yang pernah hidup di muka bumi. Beliau lahir di dalam rumah suci nubuwwah dan tumbuh besar dalam lingkaran wahyu. Beliau yang saat kecil tidak gemar permainan anak-anak, bahkan ketika bermain lebih banyak berzikir kepada Allah swt. Beliau juga yang menyaksikan bagaimana perlakuan musyrikin Mekkah terhadap ayah tercintanya. Dan beliau pulalah yang dengan bahasa lembut kekanakannya dan air mata bercucuran, mencoba menghibur dan meringankan derita sang ayah.[3]
Babak-babak kehidupan az-Zahra as tidak pernah lepas dari episode penting perjalanan Islam. Di antaranya, ketika Rasulullah menantang para pendeta Bani Najran, yang berkeras dan tidak mau mengakui kebenaran Islam, untuk bermubahalah hanya Fathimah as yang mewakili wanita keluarga Nabi yang hadir dalam peristiwa bersejarah itu.[4] Nabi sama sekali tidak mengajak istri-istrinya.
Fathimah az-Zahra as telah sampai kepada tingkat ubudiyyah yang tinggi di mana manusia paling ‘abid (penghamba) selainnya hanyalah Rasulullah saww dan Imam Ali as. Ketika malam tiba, beliau selalu sibuk dan asyik memuja Allah swt di mihrabnya hingga fajar menjelang, sampai-sampai kakinya bengkak.[5] Beliau pulalah yang beruntung dengan penyucian yang diberikan Allah seperti yang terekam di dalam ayat Thathhir.[6] Imam Ali as sendiri, sang suami, ketika ditanya Rasulullah saww tentang az-Zahra, menggambarkannya sebagai penolong paling baik dalam ketaatan kepada Allah SWT.[7] Imam Khomeini ra berkata: “Seandainya Fathimah as itu laki-laki, maka dia akan menjadi Nabi dan seandainya dia laki-laki, dia akan berada di posisi Rasulullah saww”.[8]
Kedudukan Hadis Fathimah az-Zahra as
Secara bahasa, hadis berarti baru. Jika seseorang menceritakan kembali keadaan yang telah lalu, maka bagi pendengar kejadian itu seolah-olah baru terjadi. Hadis memiliki peranan yang penting oleh karena hadis memberikan sumbangan untuk kemajuan hidup manusia. Hadis juga merupakan wasilah bagi penyampaian ide, fikiran, pengalaman dan ilmu masyarakat zaman dahulu kepada masyarakat di saat ini.
Namun secara istilah Islam, hadis berarti penyebutan suatu materi yang berasal dari para nabi dan berhubungan dengan ilmu samawi, ahkam, undang-undang, akhlak atau adab. Dalam sejarah Islam, penulisan hadis sudah dimulai sejak zaman Rasulullah saww. Imam Ali as adalah orang pertama yang menulis hadis, langsung dari apa yang didiktekan oleh Rasulullah SAW. Metode penulisan ini berasal dari Rasulullah dan terus berlangsung sampai ke Imam Mahdi afs. Beberapa sahabat juga ada yang menulis hadis, misalnya Abu Rafi’, yang menulis bab khusus tentang wudhu. Para Imam as pun memberikan perhatian khusus tentang penulisan hadis. Imam Shadiq as dan Imam Ja’far as yang aktif mengajar, berkata kepada murid-muridnya:
”Tulislah materi ini, dan sampaikan lagi kepada yang lainnya. Suatu hari nanti, tulisan itu akan menjadi bahasan utama dan ukuran bagi penafsiran dan pemahaman al-Qur’an serta penjelasan ahkam”.[9]
Hadits dan al-Qur’an ibarat 2 sisi mata uang, saling berhubungan dan terkait. Al-Qur’an yang merupakan kitab suci abadi hanya memuat hal-hal yang bersifat umum. Untuk mengetahui maksud al-Qur’an secara terperinci, hendaklah merujuk kepada penjelasan orang yang kepadanya diturunkan al-Qur’an, yaitu Rasulullah saww. Rasulullah sendiri pernah bersabda:”Sepeninggalku, umat harus mengikuti al-Qur’an dan itratku”. Rasulullah meletakkan itratnya sebagai padanan al-Qur’an sehingga mereka menjadi penjelas makna al-Qur’an.
Sementara itu, hadis juga tidak dapat berdiri sendiri tanpa al-Qur’an. Kendati hadis ditulis langsung secara cermat, tidak dapat dipungkiri, ketika hadis disampaikan kembali terkadang si pendengar salah memahami makna dan maksud si pembicara. Selain itu ada juga orang-orang yang menjual agamanya dengan harga yang murah dengan membuat hadis-hadis palsu. Oleh karena itu materi hadis harus diperiksa, apakah sesuai dengan al-Qur’an atau tidak. Apabila tidak sesuai maka hadis itu tidak dapat diterima. Para Aimmah as sendiri selalu menekankan bahwa hadits yang tidak sesuai dengan al-Qur’an, bukanlah hadis dari mereka.[10]
Maka jelaslah bahwa kejujuran perawi hadis merupakan faktor penting untuk mengetahui kedudukan hadis yang disampaikan agar selanjutnya kita dapat mengambil sikap untuk menerima atau menolak hadis yang disampaikannya.
Adapun hadis yang diriwayatkan oleh Fathimah az-Zahra as dalam kurun waktu hidupnya yang relatif singkat itu, ternyata cukup banyak. hadis – hadis tersebut ada yang didengar langsung dari Rasulullah saww dan ada pula yang berasal dari tulisan yang diperintahkan Rasulullah untuk menulisnya.[11] Untuk menilai kedudukan hadits az-Zahra as, maka kita juga harus meneliti tentang kejujurannya, sehingga kita dapat menilai apakah hadis tersebut dapat dijadikan sebagai penjelas al-Qur’an atau tidak.
Aisyah pernah berkata:”Setelah Rasulullah, aku tidak pernah melihat orang yang lebih jujur dari Fathimah”.[12] Bukan hanya jujur, sebenarnya Fathimah az-Zahra as merupakan orang yang ma’shum.
Ma’shum secara lughawi berarti terlindung dan terhalang. Sedang dalam istilah, seseorang disebut sebagai ma’shum apabila terlindung dari kesalahan dan dosa. Seseorang disebut ma’shum apabila ia dapat menyaksikan hakikat dunia dan berhubungan dengan alam malakuti, sehingga mencegah dirinya dari perbuatan dosa. Kalangan Syiah meyakini bahwa selain Rasulullah saww dan para Aimmah as, az-Zahra as juga merupakan oarng yang ma’shum.
Berikut ini adalah dalil yang membuktikan kema’shuman Fathimah as: Ayat Thathhir.
“…Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan kenistaan dari kalian, hai ahlul bait dan menyucikan kalian, sesuci-sucinya”. (Al Ahzab ayat 34)
Banyak hadits yang menyebutkan bahwa ayat tersebut turun berkaitan Rasulullah saww, Imam Ali as, Imam Hasan as, Imam Husein as dan Sayyidah Zahra as. Misalnya, Ummu Salamah berkata:
“Suatu hari, Fathimah Azzahra as membawa semangkuk bubur untuk Rasulullah SAW . Rasulullah bersabda: Panggillah juga Ali, Hasan dan Husein. Ketika semuanya datang dan sedang makan, ayat yang disebutkan di atas turun. Kemudian, Rasulullah SAW meletakkan kain khaibarinya ke atas kepala mereka dan 3 kali berkata: Ya Allah, mereka ini adalah ahli baitku, bersihkanlah mereka dari kotoran dan sucikanlah mereka”.
Setelah ayat ini turun, selama 6 bulan berturut-turut, Rasulullah selalu melewati rumah az-Zahra as ketika hendak menunaikan shalat shubuh dan membacakan ayat tersebut.[13]
Namun sebagian kalangan ada yang menyatakan bahwa ayat tersebut tidak menunjukkan kema’shuman siapapun karena sebelum dan sesudah ayat itu berbicara mengenai istri-istri Rasulullah. Dan di ayat itu yang menjadi mukhatab (orang yang diajak bicara) adalah mereka, dan jika ayat itu memang menunjukkan kema’shuman, maka harus dikatakan bahwa istri-istri Rasulullah juga ma’shum.
Untuk menjawab isykal ini, Allamah Sayyid Husein Syarifuddin menyatakan:
1. Dari beberapa riwayat disebutkan bahwa ayat ini memang turun khusus untuk Imam Ali as, Fathimah as, Imam Hasan dan Imam Husain.
2. Jika ayat tersebut untuk istri-istri Rasulullah, maka hendaknya berbentuk khitab untuk wanita dengan kata “kunna”, tidak dalam bentuk jama’ muzakkar “kum”.
3. Dalam bahasa Arab fasih, adalah hal yang biasa meletakkan satu kalimat i’tiradh yaitu penyisipan kalimat lain di tengah rangkain kalimat yang sedang menjadi pembicaraan utama. Maka tidak ada salahnya jika kita berkata:
“Allah swt meletakkan ayat ini di antara ayat yang berbicara tentang istri-istri Rasulullah sehingga terlihatlah pentingnya hal tersebut. Ini juga sebuah isyarat bahwa tidak boleh ada yang melakukan agresi kepada ahli bait Rasulullah karena mereka adalah orang-orang yang ma’shum, bahkan para istri Rasulullah juga tidak berhak melakukan yang demikian”.
4. Bisa saja terjadi bahwa ayat itu turun khusus untuk ahli bait Nabi, namun ketika ayat itu dikumpulkan ia masuk ke dalam kumpulan ayat yang berbicara tentang istri-istri Nabi.[14]
Setelah meyakini tentang kema’shuman Fathimah as, maka kita dapat memperhatikan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Fathimah az-Zahra as. Berikut ini, 2 hadits yang cukup mewakili perspektif beliau tentang wanita:
1. Imam Ali as bersabda: “Kami sedang bersama Rasulullah, beliau bertanya: Apakah yang paling baik bagi wanita? Fathimah as menjawab: Yang terbaik bagi wanita adalah dia tidak melihat non mahram dan dia juga tidak dilihat oleh pria non mahram”.[15]
2. Rasulullah Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabatnya: “Saat apakah wanita itu lebih dekat dengan Tuhannya?” Fathimah Azzahra as berkata: Ketika wanita tinggal di rumahnya”.[16]
Kalau kita membaca hadis tersebut sekilas, maka akan terlihat seolah-olah ada pembatasan yang sangat ketat bagi wanita yang pada akhirnya dapat menimbulkan prasangka buruk dalam diri kita bahwa Islam berlaku tidak adil terhadapa wanita, seperti yang banyak didakwakan oleh kalangan lain. Misalnya saja kalangan feminis yang menyebutkan:
“Feminisme berusaha melawan berbagai tindakan diskriminasi, termasuk diskriminasi peran yang didasarkan pada stereo type gender dan dominasi kaum lelaki dalam berbagai sektor kehidupan, baik ekonomi, sosial keluarga bahkan agama (Islam). Bagaimana pun agama masih merupakan norma tertinggi dalam masyarakat sehingga dalam penyusunan struktur masyarakat dan kaidah-kaidahnya, agama masih dipandang sebagai ukuran normatif. Tetapi dalam pandangan kaum feminis, posisi dan kondisi kaum perempuan saat ini masih belum sepenuhnya mencapai tataran normatif yang sebenarnya dikehendaki dalam Islam”.[17]
Agar kita tidak terjebak pada tuduhan yang sama seperti di atas, maka ada baiknya kita menyimak penjelasan ulama berkaitan dengan hadits az-Zahra as di atas.
Ayatullah Ibrahim Amini menyebutkan bahwa apa yang disampaikan oleh Fathimah Azzahra as itu adalah contoh prilaku yang paling baik yang mampu memberikan keuntungan bagi wanita dan menjaga kedudukan mereka dalam masyarakat. Karena jika wanita keluar dari rumah dan berhubungan dengan pria, di mana pria dapat menyaksikan keindahan dirinya, para pemuda akan lebih lama lagi menikah. Akibatnya wanita tanpa suami akan bertambah dari hari ke hari.
Sedang para pria yang menyaksikan keindahan wanita ini, jika ia tidak mampu memenuhi kebutuhannya berkaitan dengan hal tersebut, akan mengalami gangguan kejiwaan dan keputusasaan akan semakin menumpuk di kalangan mereka.
Selain itu, wanita bersuami yang menyaksikan bahwa suaminya memperhatikan wanita lain, maka ia akan jatuh dalam cemburu dan buruk sangka. Bangunan protes dan ketidakcocokan akan muncul, yang pada gilirannya akan menggoncangkan keselarasan rumah tangga. Akhirnya akan terjadi perceraian atau mereka tetap dalam penjara rumah dan terus menunggu berakhirnya masa tahanan, selalu menghitung waktu, ibarat polisi yang terus mewaspadai targetnya.[18]
Masih menurut Allamah Ibrahim Amini, pria beristri yang menyaksikan keindahan wanita lain akan menemukan bahwa wanita lain itu lebih cantik dan lebih menarik daripada istrinya, yang akan menyebabkan ketidaktenangan istrinya. Dengan alasan yang dibuat-buat, ia akan menukar ketenangan rumah tangganya dengan jahannam.
Sementara para pria pekerja di mana dalam aktivitas kerja, ia berpapasan dengan wanita setengah telanjang atau yang berhias, otomatis akan terpengaruh secara seksual. Pria ini tidak akan bisa memfokuskan dirinya dalam pekerjaan atau pelajaran dan mereka akan tertinggal dalam bidang ekonomi.[19]
Habibullah Ahmadi menyebutkan bahwa hadis tersebut tidak berarti pengasingan diri wanita muslimah, tetapi bahwa dalam aktivitas sosialnya wanita melaksanakan aturan Islam sedemikian rupa sehingga tidak menyebabkan pandangan haramnya pria non mahram dan dia juga jauh dari pandangan haram kepada yang bukan mahramnya. Atau bisa juga berarti bahwa para wanita sendirilah yang mengurus urusannya sehingga tidak perlu berhubungan dengan pria non mahram apalagi sampai ber-ikhthilath (bercampur) dengannya.[20]
Jelaslah bahwa hadits Fathimah az-Zahra as di atas bukan berarti penetapan ketidakadilan terhadap perempuan. Yang harus diingat adalah bahwa Fathimah as adalah wanita mulia, yang disebutkan Rasulullah saww sebagai penghulu seluruh wanita dunia dan akhirat. Maka dalam segi ilmu beliau juga lebih unggul dari wanita lain. Apalagi az-Zahra as sudah berhubungan langsung dengan alam malakuti. Ilham yang diberikan Allah dalam menjawab pertanyaan Rasulullah itu adalah bukti makrifatnya. Fathimah az-Zahra as telah merangkum perspektifnya tentang wanita dalam sebuah kalimat yang singkat, namun memiliki makna yang dalam. Wallahu a’lam [islamalternatif]
STEI Tazkia hadirkan dr.Boyke dan Muhaimin Iqbal Oleh: Humas STEI Tazkia 17 Oktober 2009
Banyak kalangan yang prihatin dengan kondisi remaja saat ini. Terlebih dengan semakin mudahnya kultur dari luar masuk ke dalam budaya negeri ini. Karena hampir sebagian besar kultur asing tersebut membawa dampak negatif bagi pergaulan remaja dewasa ini. Maka dari itu, STEI Tazkia merasa perlu membekali mahasiswanya dengan pengetahuan tentang hal-hal yang bisa menjerumuskan tersebut. Salah satunya adalah perilaku seks bebas dan rokok. Pembekalan itu disampaikan melalui acara Talk Show yang digelar Jum’at (16/10). Dalam Talk Show yang bertajuk “Bahaya Rokok dan Seks Bebas; Tinjauan Agama dan Medis” itu, mahasiswa mendapatkan pengetahuan tentang bahaya seks bebas dalam pergaulan dan juga bahaya rokok yang bisa mengakibatkan kematian.
Hadir sebagai narasumber dalam acara Talk Show ini adalah dr. Boyke Nugraha yang memang ahli dalam masalah seksologi. Beliau menjelaskan secara gamblang mengenai perilaku pergaulan antara lawan jenis, seks bebas, dan rokok. Bahkan sempat pula dijelaskan mengenai kesehatan alat reproduksi.