Responsive Banner design
Home » » Naungan Air Mata

Naungan Air Mata

Seberkas kisah kita

Kala itu aku berumur 7 tahun, di usia inilah aku mulai merasakan arti sebuah “kekejaman”,

Aku selalu memperhatikan detik jam yang berdetak, sebuah jam yang sudah mulai kumuh, terbuat dari alumuniun antik dengan ukiran nama seorang Arabian terkenal, aku masih mengingat bentuk jam itu.

Terkadangku ku bertanya pada ibuku, “ ummi, kapan jam itu berhenti berdetak dan menghentikan segala aktvitas kita?. Ummi hanya tersenyum mendengar pertanyaan konyolku ini. Beliau adalah seorang wanita yang paling tegar yang pernah aku temui, wajahnya yang sudah hampir menua, tubuhnya yang kecil dengan kerudung yang menutupi rambut hitamnya seolah menyingkirkan tiap kemelut perasaanya.

Aku memang seorang anak kecil yang hanya dianggap seorang anak kecil, tapi aku bukanlah anak kecil yang tidak hidup dan merasakan kekejian mereka. Aku hidup, aku merasakan, aku mendengar, dan aku melihatnya.

Ayahku hanyalah seorang karyawan yang bekerja di sebuah maqha milik said Hussaini Lahab, dia adalah seorang tuan tanah yang mempunyai kekuasaan penuh atas rumah yang kita kita tempati. Kumisnya yang tebel, matanya yang tajam, dan kulitnya yang hitam selalu saja membuatku enggan untuk melihatnya kedua kali, dia memang berperawakan menakutkan tapi dialah yang kerap kali membantu keluargaku di saat-saat kita terpuruk akan penatnya hidup ini.,

Setiap waktu berjalan dengan santainya tampa memperdulikan siapa saja yang merasa letih dan sakit akan sosok mayanya.

Ketika pagi menjelang, ingin rasanya aku tidak terbangun dan terus tidur, tidur dengan pulasnya.

fachrej, shalat shubuh dulu sayang, ayahmu telah menunggumu diluar, terus mandi, nanti kamu telat ke sekolahnya”. Suara lembut ibu terdengar membangunkanku, aku pun segera melangkahkan kakiku ke kamar mandi, dan pergi menuju masjid bersebelahan dengan rumah kita,

Tiba-tiba, ditengah perjalanan ke mesjid, ayah pun menghentikan langkah kakinya, ada perasaan tak enak merasuk ke hatiku. Beberapa manusia-manusia keji itu mulai terlihat, ada seseorang yang sedang di introgasi oleh mereka, bukan, bukan diintrogasi, lebih tepatnya seseorang yang sedang disiksa menggunakan tangan-tangan kotor mereka.

Aku melihat raut wajah ayah yang mulai berubah, perlahan beliau mengenggam jemari-jemariku, “ tenang nak, tidak akan terjadi apa-apa selama ayah masih bersamamu.” Itulah kali terakhir aku mendengar ucapan dari bibir beliau untukku, seseorang yang laksana cahaya penentram bagi hidupku. Seorang ayah yang lebih dari segalanya, beliau telah menemani hari-hariku dengan kesempurnaan spiritual yang tak akan pernah aku lupakan.

Aku melihat mereka, aku marah, ingin rasanya tangan kecil ini menghunus pedang ke tubuh mereka, membiarkan darah mereka bercucuran. Aku tak begitu sadar malam itu, seingatku, tubuh ayah diseret dan dipukuli dengan ujung senjata mereka, ketika itu aku mencoba melawan, mereka menamparku dan ayah membelaku, dia berusaha melindungiku, tapi tangan-tangan keji itu kembali menyeret tubuh ayah, memukul kepalanya dengan batu besar,” ayah…hentikan…ku mohon hentikan....” Teriakku pada mereka, aku menggigit kaki salah satu dari mereka, dan dia pun melempar tubuhku, setelah itu, antara sadar dan tidak, aku melihat mereka membawa ayah yang sudah tak berdaya ke dalam mobil mereka.

Aku tersadar saat ibu tengah membaluri tubuhku dengan handuk hangat, wajah beliau terlihat letih, sayup-sayup terdengar suara tangis adik perempuanku syahidah menyebut-nyebut nama ayah, aku pun meraih tangan bunda seraya bertanya, “ Bu, Ayah...,

“ kamu sudah siuman nak, sudah 2 hari kamu tak sadarkan diri, ini minumlah dulu”. Ibu memberiku secangkir teh hangat, aku tahu beliau tengah menahan sesak dan perih , matanya merah sembab, aku merasakan itu.

Aku kembali mengulang pertanyaanku,” Bu, ayahh?”. Kembali ibu hanya diam, sejenak ia berkata,” sudahlah nak, ayahmu akan baik-baik saja,” serak suaranya berusaha menahan dalam rasa sakitnya itu. Ingin rasanya aku berteriak kencang menerobos kesunyian, mengepakkan sayap-sayap keb encian, kenapa harus kami?, kenapa? Kenapa harus kami Ya Rabb, dosa kami apa? Sehingga Engkau memberi derita pahit untuk keluargaku. Aku benci dengan semua ini, setiap waktu aku selalu berdoa, melantunkan keindahan pujian-pujian Asma-Mu, berbisik kecil melafadzkan santunnya firman-firmanMu, tapi inikah yang Kau beri untukku.

Aku berusaha bangkit dari kasurku, menggenggam erat tangan ummi, “Ayah..., ummi ayah.......”,tetesan air mata yang kutahan tak sanggup lagi ku bendung, aku memang seorang yang dianggap anak ingusan, yang masih berusia 8 tahun, tapi apakah dengan kejadian ini mereka masih menggangapku seorang anak ingusan?, “anakku fachrez”, beliau memelukku erat, tangisannya tak kuasa menutupi kesedihan itu, wajahnya sayup-sayup menerpakan seluruh rasa khawatir dan takut yang selama ini beliau tahan. Syahida berlari kearah ummi dan memeluknya,”ummi...”

“kapan ini semua akan berakhir ummi, kenapa perbedaan ini ada?”, kenapa harus ayah ummi? Kenapa ayah?. Dengan wajah lembutnya, ummi diam tak bersuara, hanya tangisnya yang kudengar, sesaat dia berbisik padaku “ percayalah nak, Allah maha adil, Dia tak akan menguji kita ketika kita tidak mampu menempuhnya, beristirahatlah anakku, kau masih butuh istirahat. beliau mencium keningku, dan berlalu sambil menggendong syahida, seorang gadis kecil dan mungil yang sedang merasakan rindu akan gendongan serta belaian yang setiap sebelum tidur ia rasakan, Ayah.

Sore hari aku pun mencoba untuk keluar dari kamar, telah beberapa hari ini aku hanya berbaring di tempat tidur, ku pandangi langit biru yang hampir gelap, aku rindu ayah, apa kabarmu ayah?, aku janji kelak akan membalas semua ini dengan tanganku sendiri. Ya Allah, wahai dzat yang maha Kuat, bantu hamba menghadapi ini semua dengan kekuatan yang engkau berikan. Aku yakin jika Engkau tlah menolongku, maka tak ada yang bisa mengalahkanku, aku Yakin Engkau slalu bersamaku, dan Engkau maha Bijaksana.

Hari berganti hari, bulan mengikuti bintang yang terus berevolusi, tahun pun dengan pesona kemegahannya datang melewati setiap waktu yang terkunjungi dengan cepatnya. Seorang anak ingusan kini dengan optimismenya beranjak menjadi seorang laki-laki remaja yang setiap waktu rela menyisakan harinya untuk membantu ibunya tercinta.

Kini kudapat merasakan tangan kecil ini yang berubah menjadi tangan yang besar, tubuh kecil yang dulu pernah dianggap lemah, yang dengan mudah disakiti telah berubah menjadi tubuh kekar yang segera ingin melampiaskan semuanya. “ayah, aku akan segera datang, aku yakin engkau masih hidup, aku dapat mersakan itu. Aku tak percaya dengan omongan orang mengatakan bahwa engkau telah tiada. Aku yakin engkau masih ada, dan sedang menunggu anakmu datang menolongmu.

Pagi itu aku berkumpul dalam sebuah perundingan menghadapi perlawanan bersama para pemuda-pemuda lainnya. Ibu mencium keningku sebelum aku berangkat dan berkata,”anakku, ingatlah Allah selalu bersamamu” senyum ibu padaku laksana kobaran api yang menyemangatkan sanubari ini. “Aku akan kembali, ummi”, syahida datang dari balik ibu, “kak, bawalah ini, aku akan merindukanmu”, ia memberiku sehelai kain yang aku sendiri tidak mengerti maksud pemberiannya itu.

Dedaunan mulai berjatuhan dari pohonnya, sang mentari pun dengan bangganya mengagungkan keelokan cahaya yang begitu terik. Aku mulai mengukir wajah ayah dalam benakku, aku akan menemukannya, akan kuusap wajahnya dengan peluh kasih cintaku, aku rindu bacaan kitab suci yang beliau lantunkan, aku rindu gema azan itu, aku rindu.

Hari itu cuaca begitu lembut menghembuskan nafas yang beralur bersama desirnya pepasiran putih, aku mulai menapaki jalan demi jalan bersama para gerombolan lainnya. Berjalan dalam tapak menuju syahid cinta-Nya.

Oh Rabb, Wahai Dzat yang menciptakan deburan ombak yang terombang-ambing bersama halusnya pepasiran. Hamba mohon berikanlah kebijaksanaan-Mu Itu untuk hamba yang lemah Tak berdaya ini.

Kami mulai berjaga-jaga di beberapa tempat, siasat telah kami rencanakan, kami hanya bisa pasrah memohon bantuan-Nya. ntah berapa rumah dan bangunan yang tak kokoh berdiri lagi lantaran hancur diterpa oleh tangan-tanga keji mereka, api telah menjilat habis sebagian pondasi beberapa bangunan di negri kami. Seonggokan sampah-sampah itu membuatku ingin segera menghacurremukkan tubuh mereka, banyak saudara-saudaraku yang tak lagi memiliki daya untuk melawan, mereka lemah. Jati diri mereka seakan hilang dilumat manusia keji itu. Tapi keimanan kami tak akan mudah di tundukkan seperti mereka yang telah menundukkan negri tercinta kami. Kami tak sebodoh yang mereka pikirkan, Allah telah kuat menetapkan kecintaan kami pada satu keyakinan ini.

Silahkan kalian tertawa, duduk terbahak-bahak di atas singasana yang kalian anggap megah itu, ayo lumatkan kebencian kalian itu. Kalian pikir dengan itu semua kalian sudah yang paling kuat. Dengan mencabik-cabik hati saudaraku, mengalahkan pasukan syhid kami, kalian kira sudah merasa yang paling berkuasa. Kukatakan TIDAK, bahkan jika Dia berkehendak pepasiran putih yang ganas ini pun bisa membalut tubuhmu hingga tulang putihmu yang terlihat. Kami akan terus dengan bangga melantunkan kalimah suci “Lailahaillah Wallahuakbar.”

Suara letusan pun mulai terdengar, dari jauh ku melihat sosok-sosok itu mendekat, mengiringi benda-benda besar dan terlihat kuat, kami hanya memiliki senjata sederhana. Pasukanku tak sebanding dengan pasukan mereka, tapi niatku untuk menjalankan syahid ini begitu besar. Aku terus bertashbih kecil membisikkan Asma-asma-Nya.

Bismillah, peristiwa itu pun terjadi. Dengan gairah semangat, kami keluarkan seluruh tenaga yang kami punya. Sehelai kain yang kuikatkan pada lengan tanganku ini membakar kejangan ghirah , “aku cinta kalian fillah” Dan malam pun akhirnya tiba mengikuti langkah jejak fissabilillah yang akan terus berlajut hingga tetes darah penghabisan. Kesunyian malam menemaniku bersama gemerlapan, benih-benih ini akan terus ada dalam jiwa umat yang akan lahir dan tumbuh menjadi para penyelamat. Ingin rasanya ku menangkap kedamaian itu, kedamaian yang seolah seperti gambaran pesona mawar merah yang berdampingan dengan melati putih, indah tiada terbahasa.

Aroma yang berbeda, hembusan angin malam membawaku terhanyut dalam keheningan ini. Aku bermimpi, dalam mimpiku ayah tersenyum menyapa kehadiranku. Wajah berseri itu membawakan minuman untukku dengan segelas kaca benih, indah corak serta anggunnya bentuk kaca itu membuatku terlena.

Goresan Karya Cinta : Cut Muftia Keumala

Sebuah karangan imajinasi dari kisah-kisah umat yang telah beratus-ratus tahun terjadi, bahkan hingga detik ini.

Lembaran doa ku bisikkan berharap kasih cinta-Mu untuk saudara-saudaraku, serta para mujahidin yang tengah berjuang.

0 komentar: