Memulai sebuah kisah dalam sebagian retorika hidup ini memang tak seharusnya terbungkus dalam sebuah kerangka kesempurnaan. Aku bukanlah seorang piawai dalam memaknai cinta, bukan juga pujangga yang pintar berlihai dengan kata-kata sastra, bukan juga penulis yang cerdik dalam menyalin dan mendeskripsikan celah-celah cinta dalam tulisannya. Tapi aku adalah aku, seorang manusia normal yang juga merasakan cinta, dan itu semuanya ada saatnya.
Nostalgia, ku ingin kembali menyelami masa-masa getir dan menakjubkan itu, di sebuah kapal yang kumuh seakan mewah, yang kecil seakan megah, di kapal itulah aku mulai berlabuh, berlayar menuju daratan yang menjadi tujuan dan impian terbesarku. “Pondok Pesantren”, ya… tempat itu yang telah mengajariku banyak hal, menyadarkanku bahwa aku sedang berada dalam skenario terhandal yang hanya milik Allah SWT.
Disinilah aku memulai semuanya.
Saat itu, aku masih duduk di kelas 3 tsanawiyah, awal mulanya aku merasakan menjadi seorang remaja, masa inilah yang telah mampu mengubah tubuh-tubuh kecil ingusan menjadi seorang yang seakan ingin terus menikmati power of teenager, Pubertas.
Berbeda halnya dengan diriku, aku cuek dan sama sekali tidak memperdulikan hal seperti itu, Tidak sama sekali.
Hingga suatu hari di mana kita disibukkan oleh suatu kegiatan, disitulah kejadian itu semua bermula.
Di atas sebuah panggung berukuran panjang 15 meter dengan lebar 8 meter serta di hiasi back ground bergambar unik yang menjadi indikasi indahnya sebuah panggung, seorang kakak kelas tengah memerankan peran protagonisnya menjadi seorang kang ujang yang berusaha semampunya untuk melindungi adiknya tercinta.
Usai dramatikal, riuh pikuk suara adik-adik kelas dan temen-temenku menyorakinya bak aktor yang sudah sering naik turun panggung, saat itu aku membawa kamera digital bermerek sony yang baru saja ayahku hadiahkan untukku beberapa pekan lalu. Dan temen yang ada di sebelahku mendorongku untuk maju dan mengambil gambarnya. Aku hanya tersenyum sambil menyodorkan kamera tersebut kepadanya, “ aku takut, kamu saja” Ujarku pelan.
“Ah….ayolah sob, aku mana bisa menggunakan benda seperti ini, kamu tau sendiri kan”. Bujuknya padaku. Dengan agak ragu dan perasaan takut di perhatikan ustadz-ustadz pengasuhan, aku pun segera memasang posisi pas terarah dan kemudian “klik” aku menekan tombol pengambil gambar.
“huffttt….yup selesai, nih rah liat ja ndiri.” Ara pun memperhatikan gambar yang baru saja ku ambil. “agh…..gelap la, ambil lagi sana, gak bagus nih.” Ujar temenku ara, Kembali aku maju untuk mangambil gambar, hingga ketiga kali gambarnya masih saja tidak bagus, dengan perasaan sebel, segera aku menghapus slide-slide gambar yang aku ambil tadi, ku baru sadar temenku ara menatapku heran, lama ia tertegun dengan apa yang barusan kulakukan, dengan cepat bak kilat yang menyambar, otakku berpikir untuk memberinya alasan, “ gini lho ra…, sekarang udah malam, layar gambarnya gak bisa bagus, tidak ada modus malamnya, afwan ya…” Keluhku padanya dengan wajah yang kubuat agak memelas. “ da, momen begini jarang bisa kita dapatkan, we haven’t a chance for the secondly, baby…” Ceramahnya padaku, “ jadi, mau gimana lagi, ustadz wido dari tadi merhatiin ke sini, kamu mau ntar ketahuan?” ujarku padanya.
Ustadz wido adalah wakil direktur bagian pengasuhan, guru yang paling disegani oleh warga pesantren Misbahul Ulum, tubuhnya yang besar, kulitnya yang agak hitam tlah berhasil membuat tiap orang yang menlihatnya jadi takut terponta-ponta, namanya saja yang disebut udah membuat bulu kuduk kita berdiri, apa lagi jika berhadapan langsung dengan beliau, nafas seakan segan untuk melanjutkan tugasnya, jantung seakan tak ingin lagi berdetak, hidup segan mati tak mau. Itu motto yang kita gunakan tiap nama kita disebut olehnya,
“beneran ente da?, aduhh… Astaghfirullah.” Ara segera merapikan posisi duduknya, terlihat raut wajahnya yang pucat karena takut. “hehe…berhasil.” Celotehku dalam hati.
Ara adalah salah satu dari kelima teman deketku di pondok, dia pintar tapi malas, tidak pernah aku melihatnya belajar ketika ujian, dia juga jarang memperhatikan guru menerangkan penjelasan di kelas, sering tidur dan tubuhnya yang gemuk membuatnya terlihat lucu ketika tiap kali dia angkat suara. Betapa besar karunia Allah yang diberikan padanya, tanpa belajar saja dia sudah mampu berada pada tingkatan ketiga di kelas, apalagi jika belajar.
Hari itu hari selasa, tanggal 7 februari, hari kelahiranku. Sudah adatnya dipondok tiap santriwati yang sedang berulang tahun akan mendapat kreativitas sosialisasi dari kawan-kawannya, dan ini adalah hal yang paling menyebalkan bagi santriwati itu sendiri, kalian tau apa?.
Setiap yang berulang tahun bakalan dikerjai yang bukan seadanya, prioritas kelas unggulan telah mendapat prestasi terbesar dalam hal-hal seperti ini, apalagi di kalangan anak-anak yang baru merasakan menjadi seorang remaja.
Pagi itu aku mencoba diam, memastikan bahwa kawan-kawan tidak ada yang mengingat ulang tahunku. Seperti biasanya, setiap pagi kita mengikuti pembagian kosa kata, setiap kelompok di berikan dua kosa kata perharinya untuk dihafal dan di pergunakan, barang siapa yang tidak memakai kosa kata yang telah diberikan, akan di kenakan sanksi.
Seusai kosa kata, kami pun bersiap-siap untuk mandi dan aku menuju lemariku untuk mengambil pakaian sekolah yang akan ku kenakan nanti. Sampai didepan lemari, perasaanku mulai risih, kunciku tidak tergantung lagi di tempatnya, “ ya Allah… dimana kuncinya” bisikku dalam hati. Aku berusaha menarik-narik gagang pintu lemari ku, namun tetap saja tak bisa terbuka, aku bertanya pada teman-teman sekamarku, mereka hanya acuh dan tak memperdulikan aku bicara, seakan aku tak ada disana,
Aku pun keluar untuk mandi, tapi sesampai di kamar mandi, aku kehilangan perlengkapan mandiku, aku mencari kesana kemari, namun tak kunjung ku temui, aku mulai curiga pada siasat teman-temanku, ntah mengapa tiba-tiba kaki ini melangkah ke arah belakang kamar yang dekat dengan hutan, ketika itu suasana pagi masih begitu gelap, dibawah rak-rak sepatu, aku melihat benda yang teramat kukenal, ya…. Itu dia, akhirnya aku menemukannya. Aku segera berlari mengejar waktu untuk mandi.
Selesai mandi aku kembali ke kamar, sejak mandi tadi yang ada dipikiranku adalah kunci, akankah aku akan terlambat ke kelas Cuma gara-gara kunci, ku terus berdoa dalam hati.
Tapi apa, ketika aku kembali ke kamar, ku diam terpaku melihat apa yang terjadi, seakan raga ini ingin pingsan, lemariku terbuka lebar dengan semua barang-barang yang tergeletak berantakan diatas lantai bertuliskan “ Barang Obralan, Stok terbatas”. Ya Allah…cobaankah ini?. Kawan-kawanku tertawa geli melihat raut wajahku. “ nih, kuncinya.” rina sobatku memberikan kunci yang dari tadi ku cari. Dia termasuk komplotan yang mengerjaiku. “ terima kasih buat kalian semua.” Ujarku pada mereka. Segera aku pinggirkan barang-barangku untuk aku bereskan sepulang sekolah.
Baju sekolahku, mana baju sekolahku?, ujarku spontan. “please kawan, kembalikan baju sekolahku, nanti aku bisa terlambat nih.” Kataku memelas. Namun tetap saja tak ada yang menoleh ke arahku. “kalian tega melihat aku di berdirikan oleh bagian pengajaran di tengah-tengah lapangan…??” pintaku lagi. “ di bawah kasur, da.” Suara icut mengagetkanku. cut juga salah satu dari kelima temenku Ayu, Ara, Rina, dan Ria. Dia adalah sahabat yang paling deket denganku, teman curhat juga teman berkelahiku. Ayahnya telah meninggal ketika dia selesai di bangku SD, itu kejadian yang teramat pahit baginya, dia adalah anak terakhir dari turunan Al-faruqi. Terkadang ia bisa menjadi kawan yang begitu menyebalkan bagiku. Tapi dia adalah sesosok kawan baik yang tak akan pernah ku lupakan.
Aku pun segera berkemas-kemas untuk pergi ke sekolah, bersyukur akhirnya aku tidak terlambat pergi ke kelas, kalau saja terlambat, wajahku yang kesekian kalinya bakalan hadir ditengah-tengah pemandangan indah yang sering di perhatikan murit-murit kelas lainnya. Semua tidak berakhir sampai disini saja, masih banyak tantangan ke depan yang akan aku hadapi.
Kelasku berada pada tingkat 2, aku duduk di kelas 3 A, kelas unggul yang ditempati oleh 17 ikhwan dan 18 akhwat, diantara semua kelas hanya kelasku saja yang digabung antara ikhwan dan akhwatnya, ya… dikarenakan ruangan di sekolahku pada saat masih sangat standar.
Aku meletakkan buku-buku pelajaranku di atas meja dan beranjak ke luar kelas untuk berbaris dahulu sebelum masuk. Tiba-tiba, tanpa sepengetahuanku mereka menulis seabrik tulisan konyol di atas papan tulis, “for heaven sake, apa lagi ini” keluhku pada mereka, mereka mencegahku untuk masuk ke kelas, mereka memberikanku perintah ini dan itu, mulai dari membersihkan koridor sampai mengambil absent di kantor.
Dan aku pun turun ke bawah untuh mengambil absent, sesampai di kantor, aku berpapasan dengan seorang kakak kelas yang seakan sudah tidak asing lagi bagiku, siapa ya… dia mengalihkan senyumannya padaku, tapi ku tak peduli, segera ku mengambil absent di bagian pengajaran dan kembali ke kelas. Di pikiranku hanya terlintas tentang siasat apa lagi yang akan di lakukan oleh teman-teman padaku.
Pelajaran pun berlangsung seiring waktu belajar, seusai pelajaran pertama, aku mulai merasa curiga dengan kelakuan kedua teman ikhwanku.
“Dor.” “ astaghfirullah.” Suara letusan terdengar mengagetkanku, mereka meletakkan letusan dekat dengan kursi yang aku duduki, mereka hanya tersenyum geli melihatku kaget. Aku tetap tak peduli, aku pura-pura fokus dengan bacaan yang sedang ku baca, mereka pikir dengan melakukan hal seperti itu, aku bakalan marah dan berpaling kearah mereka, aku masih tetap seperti diriku, tidak peduli apapun urusan mereka para ikhwan, but, you know what ?, suara ledakan itu terdengar oleh wali kelas kami yang memang memiliki penyakit jantung, secara spontan dan tak terduga beliau langsung masuk ke kelas kami dan bertanya siapa yang telah meledakkan letusan itu, temenku Edi tanpa basa-basi dengan rasa bersalah menganjungkan jarinya, seraya berkata, “saya ustsdzah”, dibarengi dengan temenya ulil. Mereka pun disuruh mengahadap penaadz Zainal.
“ Siapa yang bernama Mufti disini?” tanyanya pada kami di kelas, arahan tertuju padaku, “ hari gini belum kenal yang namanya Mufti?” hehe hatiku membathin, dengan gaya bak aktris yang seakan ingin dimintai untuk menandatangani kontrak, aku pun dengan bangganya mempersembahkan dan menunjukan bahwa akulah yang bernama Mufti. Berbeda halnya dengan orang-orang yang ditanyai oleh pengasuhan dengan gaya mereka yang takut bakalan di beri sanksi atas tindakan kriminal yang mereka sadari atau tidak, aku sebaliknya, santai dengan action senyumku yang gemulai tapi mungkin terlihat tak manis, maklum saat itu udah hampir siang, kalian tau sendiri kan wajah-wajah manusia ketika siang bolong, eh gak maksud nyindir lho....
Kembali pada pokok permasalahan tadi, aku masih tergagap dengan pertanyaan beliau barusan yang muncul sekejap dan berhasil membuatku kaget, “ ana ya Ustadz”. Ujarku pelan. “ hari ini kamu milad ya...?” Tanyanya lagi. Aku hanya menunduk dengan perasaan agak heran. Tiba-tiba beliau langsung meluapkan seluruh kata-katanya yang membuat hatiku berdebar kancang, aku sesak, tangisan seakan ingin memenuhi sudut ruang jiwa ini. Aku tak mengerti dengan ucapan beliau, beliau mengatakan aku mengikuti budaya yahudi dengan caraku merayakan hari milad ini dengan membawa letusan, maksudnya apa?.
Dan aku mulai mengerti ketika aku melihat dua temen ikhwanku sedang berdiri terpaku di depan kelas. Seabrik ceramah pun mengisi kelas kami saat itu. Aku terdiam, aku bukan tipe yang bisa langsung membantah ketika itu tidak benar bagiku, aku begitu lemah, hanya bisa menahan rasa sesak tak karuan.
TO BE CONTINUE.....



0 komentar:
Posting Komentar